Wednesday, March 18, 2009

Sekolah, Buku dan Pemberdayaan akademik Siswa

Makalah untuk dipresentasikan pada seminar "Membangun Perpustakaan sebagai Sumber Belajar," Kelompok Cinta Baca, Jakarta, 27 September 2001

Berbicara tentang perpustakaan sebagai sumber belajar untuk sebagian mungkin dapat disejajarkan dengan peristiwa "revolusi kartesian" dalam dunia ilmiah, terlebih untuk madrasah yang masih kental dengan "budaya oral" yang memposisikan guru sebagai "serba tahu" dan "serba benar." Dengan menempatkan buku sebagai sumber belajar berart, menggeser otoritas akademik guru, dan memposisikannya "sekedar" sebagai seorang fasilitator yang memberikan asistensi terhadap berbagai masalah akademik yang berkembang di kalangan siswa. Ini juga berard melakukan transformasi fungsi kelas sebagai media untuk "tukar informasi" dan "medan diskusi" yang menguji hasil bacaan guru dan siswa sekahgus, ddak lagi sebagai ternpat untuk "mengajarkan" ilmu seperd yang umum berlaku sekarang. Dengan model pembelajaran seperti ini kita dapat membayangkan implementasi kongkret darl gagasan pendidikan liberal ala Poulo Priere tentang "guru yang murid" dan pada waktu bersamaan "murid yang guru." Di sini, hanya mereka yang membaca yang menghendaki informasi lebih banyak dan lebih cepat, tidak peduli apakah ia seorang murid atau guru.

Implikasi lebih jauh dari proposisi ini adalah terjadinya "demokratisasi ilmu" hampir dalam pengertian yang sesungguhnya. Dalam demokratisasi ilmu terkandung pengertian terbukanya informasi keilmuan untuk diakses, didiskusikan, dianalisis, diuji, dan dikembangkan, tanpa melihat siapa penulisnya, berapa usia pembacanya, apa tingkat pendidikannya, dan seterusnya. Dengan buku yang mudah didapat, gampang dibeli, bebas dibaca, dan tidak sulit dipaharmi maka era dominasi guru pun secara. otornatis berakhir. Ini tidak berarti tanggungjawab guru sudah tidak ada lagi. Tanggung jawab itu Justru lebih besar, karena la dituntut untuk membaca lebih banyak, menguasai bidang yang diajarkan secara. lebih komprehensif, dan kemampuan menjelaskannya secara lebih jernih dan sistematis.

Sayangnya, paradigma pembelaJaran seperd ini tidak berkembang dengan baik meski pada sebagian (untuk tidak menyebut sebagian besar) sekolah dan madrasah telah tersedia perpustakaan dengan kondisi paling minimal sekalipun. Masalahnya, hingga saat ini perpustakaan belum. ditempatkan sebagal bagian yang integrated dari proses pembelaJaran secara keseluruhan. Keberadaannya nyaris hanya sekedar ornamen penghias kampus yang dikunjungi oleh sebagian kecil. siswa pada waktu waktu tertentu, dengan jumlah dan kualitas buku serta layanan yang tidak memadai. Sebab, sebagian terbesar buku yang tersedia di dalamnya merupakan bahan ajar yang telah dimiliki siswa, waktu layanan dilakukan pada saat siswa belajar aktif di ruang kelas atau pada saat mereka tengah istirahat, rendahnva motivasi guru untuk berkunjung ke perpustakaan, tidak terbangunnya budaya baca di hngkungan sekolah, serta berbagal masalah lainnya. Untuk sebagian, kondisi ini nampaknya berkaltan dengan manajemen pendidikan dan paradigma pembelaiaran vang tidak memberikan iklim yang kondusif bagi terbangunnya budaya akadermik di sekolah.

Secara kultural. Fakta ini berkaitan dengan persepsi masjarakat._tentang_ i1mu, pola transmisi keilmuan, dan tidak terbangunnya masyarakat belajar dalam masyarakat kita. Bahkan, bukan fidak mungkin pula disebabkan oleh pandangan masyarakat dan siswa tentang sekolah. Karena itu, untuk mewujudkan perpustakaan sebagai sumber bela)ar tidak hanya diperlukan perubahan politik pendidikan dan strategi kebudayaan, tetapi juga pengembangan strategi pembela)aran, inovasi tentang manajemen sekolah, dan penyesuaian proses pendidikan dengan perkembangan sains dan teknologi moderen, terutama teknologi telekomunikasi dan informasi.

Bagi mereka yang dibesarkan pada tahun 30 an sampai 50 an, lebih lebih untuk masa yang jauh lebih ke belakang, transformasi pembela)aran ini mungkin tak terbayangkan, dan karenanya dapat mengguncang otoritas tradisional yang dimihki para guru, kyai, pujangga, kalangan menak, dan kelompok elit masyarakat lainnya. Karena hanya kelompok inilah vang. dulu memiliki akses terhadap _lnformasj, mampu untuk membeli buku, serta merupakan sekelompok sangat kecil orang yang "melek huruf" dan telah "tercerahkan."

Pada saat di mana jumlah buku sangat terbatas, toko buku sulit ditemukan, dan penulis demikian langka, buku bukan hanya menjadi barang yang mahal, tetapi sekahgus "bertuah". Untuk membehnya, seseorang mungkin harus menjual ternak peliharaannya atau sepetak sawah miliknya. Sehingga fungsinya tidak sekedar sebagai "sumber ilmu", melainkan juga sebagal simbol status dan menjadi "jimat" yang dlyakini dapat menolak bala. Dengan begini dapat dirnaklumi bila orang tua pada masa lalu memperlakukan buku sedemikian rupa, dan menyimpannya pada tempat tempat tertentu yang tidak semua orang dapat menjamahnya (atau. bahkan terlarang untuk sekedar melihatnya).

Sangat dimaklumi bila kemudian guru menjadi demikian sentral. Tidak satu orang pun di ruang kelas yang telah membaca isinya, dan menyampaikannya kepada orang lain, selain guru. Sementara siswa sudah merasa sangat beruntung dengan hanya menyalinnya dari papan tulis ke dalam kertas "daluwang" yang masih penuh dengan serat jerami. Sebab, ada masanya ketika siswa harus menghapalnya di ruang kelas, satu kali untuk selamanya, karena tidak ada sarana untuk mencatat, kecuali "sabak" yang harus segera dihapus bila mata pelajaran diganti.

Pada masa yang masih dengan mudah diingat (karena sebagian dari kita mungkin pernah mengalami), para santri di pesantren terlebih dahulu harus menyalin sebuah kitab dengan tinta balok yang telah dihaluskan dan diisi air ¬sebelum mengikuti pengajian. Pekerjaan ini amat melelahkan, di samping jumlah halamannya yang banyak, tulisannya yang kecil, alat tulisnya pun harus selalu dicelupkan setiap sebuah hurup atau kata dituliskan. Dapat dimengerti bila kemudian penguasaan terhadap satu dua kitab sudah dipandang istimewa dan menjadi "tiket masuk" untuk bergabung ke dalam kelompok elit masyarakat dan tokoh agama. Sebab, di tengah masyarakat yang buta hurup dan tidak pernah menyentuh buku, hanya kelompok inilah yang sudah tercerahkan, memiliki akses yang paling minimal sekalipun ke dalam sumber¬-sumber informasi keilmuan, menguasai doktrin keagamaan, dan kemungkinan mengkontekstualisasikannya ke tengah tengah masyarakat.

Dalam konteks inilah kita dapat melihat adanya keyakinan terhadap guru sebagai orang yang harus "digugu" dan "ditiru." Bahwa ucapannya tak terbantah, semula bukan karena pasti benar, tetapi lebih karena tidak ada orang lain yang memiliki akses kepada sumbernya. Dialah orang yang lebih tahu, perilakunya lebih bernas, ucapannya paling i1miah, dan ucapannya memiliki kaitan langsung dengan teks.

Tetapi sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi, masa itu tampaknya akan segera berakhir. Di setiap kampung, kini banyak orang yang terdidik, hampir semua anak usia sekolah belajar di suatu institusi pendidikan, dan nyaris tidak ada lagi yang buta huruf, sehingga guru atau kyai bukan lagi satu satunya orang yang "tercerahkan.". Lebih lebih dengan adanya toko buku dan perpustakaan di setiap daerah, ditemukannya teknologi informasi canggih yang dapat mengakses data dari belahan dunia sana dengan hanya memijit tombol di sebuah kamar sempit dan kampung yang jauh dari keramaian.

Sebagal salah satu institusi yang bersentuhan dengan berbagai institusi lain secara intensif dan berkesinambungan, lembaga pendidikan tentunya perlu menghitung dan mempertimbangkan berbagai perkembangan yang berlangsung di luar itu. Lebih lebih karena perkembangan yang berlangsung itu seringkali tidak terduga, bersifat eksplosif, dan hampir hampir dengan logika "deret ukur". Apa yang sekarang dipandang sebagai sesuatu yang canggih, bisa sudah akan ketinggalan zaman hanya dalam hitungan bulan atau tahun. Untuk sekedar menyebut satu contoh paling aktual, beberapa tahun yang lalu kita begitu ternganga dengan program WordStar (WS). Tapi program itu kini sudah ketinggalan zaman. Mengajarkan program itu di sekolah pada saat ini karenanya akan menjadi bahan tertawaan orang. Dalam dunia akademik, pembicaraan tentang IQ (intellectual question) kini sudah tidak lagi dominan, karena ditemukan unsur lain yang tidak kurang pentingnya, yakni EQ (emotional question) dan spiritual intelegence.

Beberapa fenomena yang masih bisa ditambah dengan sederet perkembangan lain ini disebut untuk sekedar menyatakan bahwa institusi pendidikan perlu merespons secara serius berbagai penernuan sains dan teknologi, serta memanfaatkannya bagi peningkatan kualitas pendidikan. Dalam konteks ini, optimalisasi fungsi perpustakaan. sebagai sumber belajar dapat dipandang sebagai langkah strategis dalam. meningkatkan wawasan akademik, membangun masyarakat belaIjar, merangsang minat baca, dan melakukan pengembaraan intelektual sampai keluar dari patok patok disiplin ilmu dan sistem penjurusan. Untuk itu jelas diperlukan “political will” dari pengelola pendidikan di tingkat sekolah, pengembangan kebijakan di tingkat pernerintah, perubahan paradigma dan strategi pembelaJaran di kalangan guru, serta dukungan. dari berbagai komponen masyarakat. Tidak kurang pentingnya adalah dukungan dari kalangan penerbit dan. media dengan. menyediakan buku yang bermutu dan sesuai kebutuhan siswa.

Dukungan dan. kemauan politik dari berbagai pihak itu diharapkan dapat mempercepat proses perubahan paradigma pembelajaran di lingkungan pendidikan kita. Perpustakaan sekolah pada akhirnya hanya merupakan salah satu titik bidik yang diharapkan dapat secara langsung rnenernbus _pusat perkaderan generasi" yang strategis ini. Sebab di samping perpustakaan sekolah, kita juga tidak dapat mengabalkan keberadaan perpustakaan lain yang ada, seperti Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Daerah, Perpustakaan Masyarakat, Perpustakaan Masjid, bahkan juga perpustakaan kelihng, dan seterusnya. Ini berarti mengoptimalkan seluruh pusat perbukuan dan media informasi di sekitar sekolah (atau di kota) masing masing dalam mendorong terbangunnya perpustakaan sebagai sumber belajar.


Bambuapus, 26 September 2002

No comments: